Siapa tidak ingin memiliki anak cerdas. Konon, kecerdasan anak dapat dikembangkan sejak dalam kandungan. Untuk mendukung perkembangan otak janin, tidak cukup hanya diberi nutrisi saja. Mengelus-elus perut ibu hamil juga bisa memicu perkembangan otak janin.
“Stimulasi ini seperti dengan mengusap-usap perut ibu hamil dan mengajak bicara janin. Dengan sering melakukan stimulasi seperti itu, maka jaringan sinaptogenesis atau hubungan antar syaraf semakin banyak,” kata dokter spesialis anak Dr Attila Dewanti Sp.A.
Hal itu disampaikan dia dalam diskusi bertajuk “Mengembangkan Kecerdasan Anak Sejak dalam Kandungan” di Brawijaya Women and Children Hospital, Jl Taman Brawijaya, Jakarta, Sabtu (22/9/2007).
Attila mengatakan, mengusap perut dan mengajak bicara janin juga bisa meningkatkan hubungan bapak-ibu dengan anaknya. Selain itu juga bisa mematangkan emosi anak, sehingga ketika dewasa tidak mudah depresi.
Menurut dia, faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan otak ada 3 yaitu, genetik, nutrisi dan lingkungan. Nutrisi yang diperlukan untuk perkembangan otak janin antara lain protein, karbohidrat, vitamin, mineral, serta AA dan DHA untuk perkembangan otak dan retina mata.
Untuk faktor genetik, orangtua yang cerdas, kemungkinan besar akan memiliki anak yang cerdas pula. Sebab dari faktor genetik ini, sekitar 50-60 persen yang diturunkan.
Sedangkan faktor lingkungan salah satunya adalah mengelus perut dan mengajak bicara janin.
sumber : Detiknews, www.hypno-birthing.web.id
Selasa, 04 Maret 2008
Senin, 03 Maret 2008
Stimulasi Terus Menerus pada Balita Dapat Ciptakan Anak Cerdas
Pemberian stimulasi yang teratur dan terus-menerus akan menciptakan anak yang cerdas, bertumbuh kembang dengan optimal, mandiri, serta memiliki emosi yang stabil, dan mudah beradaptasi.
Ahli spesialis anak dr. Caroline Mulawi, Sp.A. pada acara "road show" produk popok dan "toiletries" bayi Huggies mengatakan di Jakarta, Minggu, perasaan kasih sayang akan juga makin memperkuat ikatan emosi ("bonding") ibu dan bayi, bahkan sampai anak tumbuh dewasa."
Melalui stimulasi tersebut, anak dapat mencapai perkembangan optimal pada penglihatan, pendengaran, perkembangan bahasa, sosial, kognitif, gerakan kasar, halus, keseimbangan, koordinasi, dan kemandirian," kata Caroline, yang berpraktek di RS Omni Medical Center Jakarta, dan RS. Omni International Alam Sutera, Tangerang.
Sementara itu, Managing Director Kimberly-Lever Indonesia, Bong R. Kamus, Jr, mengatakan pihaknya -- sebagai produsen produk Huggies -- sangat mendukung program sosialisasi pengikatan emosi ibu dan bayi ("mother-infant bonding") serta stimulasi pada anak usia balita yang dipercaya dapat memperkuat perkembangan fisik, mental, dan sosial anak.
Dikatakannya dalam "road show" Huggies tersebut pihaknya juga telah bekerja sama dengan lembaga pelatihan senam otak untuk balita "Brain Gym" dalam upaya menunjang program sosialisasi peningkatan kecerdasan anak.
Program Stimulasi
Caroline mengatakan stimulasi telah dapat diberikan pada bayi sejak masih dalam kandungan, pada usia kehamilan enam minggu dengan cara mengajak bicara pada bayi yang masih dalam kandungan serta memperdengarkan musik lembut."
Hasil penelitian membuktikan nantinya bayi akan memiliki tingkat kecerdasan atau IQ ("intelligence quotient") yang lebih tinggi 14 poin dibanding anak-anak usia sebaya serta memiliki kemampuan bicara lebih cepat," kata dia.
Setelah bayi lahir, ibu atau pengganti ibu, seperti halnya "baby sitter", dapat terus melakukan stimulasi. Untuk bayi usia 0-3 bulan, stimulasi yang diberikan antara lain dengan cara menggantungkan mainan yang bisa bergerak, mengajak bicara, menyanyi, memutarkan rekaman musik, serta melatih mengangkat kepala, dada, memiringkan badan, serta tengkurap.
Pada usia 3-6 bulan, stimulasi yang diberikan antara lain dengan memperlihatkan cermin, melatih tengkurap, berguling, memberikan mainan yang dapat dipegang dan diraih. Pada usia 6-9 bulan, stimulasi tetap diberikan dengan melanjutkan stimulasi sebelumnya serta melatih bersalaman, bertepuk tangan, melambaikan tangan dan menunjuk ke benda-benda yang jauh.
Pada anak usia 9-12 bulan, mereka dapat dilatih menyebutkan nama-nama orang di dalam keluarga, menggelindingkan bola, serta mulai berlatih berdiri dan berjalan berpegangan, sementara pada usia 12-18 bulan stimulasi dilanjutkan dengan melatih anak menyusun kubus, balok, bermain menggunakan boneka, sendok, belajar melepas celana, baju, serta mulai berjalan tanpa pegangan.
Stimulasi dilanjutkan pada usia anak 18-24 bulan dengan mengajarkan mereka menyebut nama gambar, bagian tubuh anak, binatang, serta berlatih mencuci tangan, sikat gigi, serta bermain melempar bola dan melompat.
Pada anak usia 2-3 tahun stimulasi dilanjutkan dengan mengajarkan mereka mengenai kegunaan benda sehari-hari, memakai baju sendiri, menggambar garis lingkaran, serta berlatih berdiri dengan satu kaki. Sementara pada usia tiga tahun ke atas stimulasi diarahkan untuk perkembangan kesiapan sekolah anak, antara lain dengan memperkenalkan huruf dan angka serta berlatih berhitung sederhana. (*)
Ahli spesialis anak dr. Caroline Mulawi, Sp.A. pada acara "road show" produk popok dan "toiletries" bayi Huggies mengatakan di Jakarta, Minggu, perasaan kasih sayang akan juga makin memperkuat ikatan emosi ("bonding") ibu dan bayi, bahkan sampai anak tumbuh dewasa."
Melalui stimulasi tersebut, anak dapat mencapai perkembangan optimal pada penglihatan, pendengaran, perkembangan bahasa, sosial, kognitif, gerakan kasar, halus, keseimbangan, koordinasi, dan kemandirian," kata Caroline, yang berpraktek di RS Omni Medical Center Jakarta, dan RS. Omni International Alam Sutera, Tangerang.
Sementara itu, Managing Director Kimberly-Lever Indonesia, Bong R. Kamus, Jr, mengatakan pihaknya -- sebagai produsen produk Huggies -- sangat mendukung program sosialisasi pengikatan emosi ibu dan bayi ("mother-infant bonding") serta stimulasi pada anak usia balita yang dipercaya dapat memperkuat perkembangan fisik, mental, dan sosial anak.
Dikatakannya dalam "road show" Huggies tersebut pihaknya juga telah bekerja sama dengan lembaga pelatihan senam otak untuk balita "Brain Gym" dalam upaya menunjang program sosialisasi peningkatan kecerdasan anak.
Program Stimulasi
Caroline mengatakan stimulasi telah dapat diberikan pada bayi sejak masih dalam kandungan, pada usia kehamilan enam minggu dengan cara mengajak bicara pada bayi yang masih dalam kandungan serta memperdengarkan musik lembut."
Hasil penelitian membuktikan nantinya bayi akan memiliki tingkat kecerdasan atau IQ ("intelligence quotient") yang lebih tinggi 14 poin dibanding anak-anak usia sebaya serta memiliki kemampuan bicara lebih cepat," kata dia.
Setelah bayi lahir, ibu atau pengganti ibu, seperti halnya "baby sitter", dapat terus melakukan stimulasi. Untuk bayi usia 0-3 bulan, stimulasi yang diberikan antara lain dengan cara menggantungkan mainan yang bisa bergerak, mengajak bicara, menyanyi, memutarkan rekaman musik, serta melatih mengangkat kepala, dada, memiringkan badan, serta tengkurap.
Pada usia 3-6 bulan, stimulasi yang diberikan antara lain dengan memperlihatkan cermin, melatih tengkurap, berguling, memberikan mainan yang dapat dipegang dan diraih. Pada usia 6-9 bulan, stimulasi tetap diberikan dengan melanjutkan stimulasi sebelumnya serta melatih bersalaman, bertepuk tangan, melambaikan tangan dan menunjuk ke benda-benda yang jauh.
Pada anak usia 9-12 bulan, mereka dapat dilatih menyebutkan nama-nama orang di dalam keluarga, menggelindingkan bola, serta mulai berlatih berdiri dan berjalan berpegangan, sementara pada usia 12-18 bulan stimulasi dilanjutkan dengan melatih anak menyusun kubus, balok, bermain menggunakan boneka, sendok, belajar melepas celana, baju, serta mulai berjalan tanpa pegangan.
Stimulasi dilanjutkan pada usia anak 18-24 bulan dengan mengajarkan mereka menyebut nama gambar, bagian tubuh anak, binatang, serta berlatih mencuci tangan, sikat gigi, serta bermain melempar bola dan melompat.
Pada anak usia 2-3 tahun stimulasi dilanjutkan dengan mengajarkan mereka mengenai kegunaan benda sehari-hari, memakai baju sendiri, menggambar garis lingkaran, serta berlatih berdiri dengan satu kaki. Sementara pada usia tiga tahun ke atas stimulasi diarahkan untuk perkembangan kesiapan sekolah anak, antara lain dengan memperkenalkan huruf dan angka serta berlatih berhitung sederhana. (*)
Cara "Menciptakan" Anak Cerdas
Anak cerdas adalah anak yang otak rasional, otak emosional, dan fungsi-fungsi motoriknya berjalan secara baik. Jika hanya salah satu yang berkembang, itu akan menghilangkan salah satu bekalnya dalam mengarungi kehidupan dewasa yang lebih keras. Jauh lebih mudah meningkatkan kemampuan otak rasional dan fungsi motorik daripada otak emosional seorang anak.Otak rasional berpusat di kulit otak (mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan berpikir rasional, seperti berhitung, memecahkan masalah, dan lain-lain). Otak emosional berpusat di sistem limbik (mengurusi soal perasaan: bagaimana kita menguasai diri, mengendalikan, dan bertindak sesuai dengan kadarnya).
Tips / Cara untuk menciptakan anak cerdas, setidaknya ada 5 hal yang harus diperhatikan betul :
1. Makanan
Ini amunisi otak yang sangat penting. Anak-anak yang kekurangan gizi umumnya memiliki otak yang kurang berkembang. Konsumsi ikan yang cukup, ASI, vitamin, dan mineral merupakan amunisi yang tepat bagi otak. Apa pun kursus yang Anda berikan untuk anak anda tanpa memberinya makanan yang tepat, samalah artinya dengan mengisi ruangan tanpa menguatkan dinding-dindingnya. Gizi adalah bahan baku proses-proses seluler, terutama untuk pembangunan struktur otak.
2. Lingkungan
Makin bervariasi lingkungan hdup anak Anda, makin baik perkembangan otaknya. Warna, bentuk, orang-orang yang berbeda, suasana yang bervariasi, dan lain-lain lebih mudah menstimulasi otak dibandingkan yang homogen. Jika Anda menciptakan lingkungan yang kaya dengan permainan, otak anak Anda berkembang dengan sangat pesat. Karena itu, sebisa mungkin, tempat tidur, tempat belajar (terutama di sekolah-sekolah), dan ruangan keluarga dapat diubah setiap jangka waktu tertentu. Anda perlu juga mengajaknya ke tempat-tempat yang penuh dengan hal-hal baru, seperti di pantai, gunung, dan lain-lain. Semakin bervariasi lingkungan, semakin cepat koneksi sel saraf terjadi.
3. Pengalaman emosional
Sistem limbik lebih dulu matang dibandingkan dengan kulit otak. Akibatnya, anak-anak menjadi sangat peka terhadap rangsangan dan pengalaman emosional. Semua pengalaman emosional yang diberikan pada rentang usia 0-7 tahun ini akan sangat berpengaruh dalam membentuk jalinan antar sel saraf. Pada usia ini, kontrol diri, kesabaran, kerja sama, empati, dan lain-lain lebih mudah dilatih dan tertanam kuat dalam otak dibanding berhitung, membaca, atau kegiatan-kegiatan kalkulatif lainnya. Jangan lupa, kematangan emosional ini lebih menentukan kesuksesan anak Anda di masa depan ketimbang kemampuan berhitung dan main komputer.
4. Stimulasi rasional
Hal-hal yang baru (novelty), menantang (challenge), padu (coherent), dan penuh makna (meaningful) lebih cepat memengaruhi otak ketimbang hal-hal yang lazim dan biasa. Jika setiap hari Anda memperkenalkan kata-kata baru kepada anak Anda, teknik-teknik baru dalam berhitung, tugas-tugas yang menantang dan penuh makna (misalnya, membuat percobaan fisika yang berkenaan dengan hal-hal sehari-hari), otaknya akan lebih cepat berkembang. Hal-hal yang menantang, seperti menemukan bentuk tertentu dalam banyak bentuk, dapat memperbanyak hubungan sel saraf. Origami (seni melipat kertas) adalah salah satu cara memperbanyak hubungan sel saraf. Attention of details juga merangsang otak. Berikan sebuah batu kerikil atau dedaunan kepada anak-anak. Mintalah mereka mencermati alur, warna, bentuk, dan ciri-ciri lain yang tidak tampak jika hanya dilihat sepintas. Perhatian pada hal-hal kecil, terutama bentuk dan warna, membuat sinaps saraf bertambah banyak.
Contoh seni Origami dapat didownload di sini.
5. Aktivitas fisik
Aktivitas fisik memengaruhi otak dengan tiga cara:
1) Meningkatkan sirkulasi darah ke otak. Artinya, oksigen, gula, dan zat gizi juga bertambah.
2) Memengaruhi produksi hormon NGF (Nerve Growth Factor); dan
3) Merangsang produksi dopamin. Zat ini berfungsi penting dalam menata perasaan (mood) anak Anda. Semakin sering dan terampil ia melakukan kegiatan fisik, semakin baik perkembangan otaknya.
Lima hal di atas tidak berdiri sendiri. Semuanya saling melengkapi dan saling memengaruhi. Anda tidak boleh mengedepankan dan memprioritaskan satu di antara yang lain. Jika Anda harus memilih yang utama, disarankan untuk melatih emosi anak Anda lebih dulu. Kematangan emosi memerlukan waktu tertentu untuk berkembang. Sedangkan kecerdasan rasional dapat Anda tingkatkan kapan saja Anda mau.
Source: Manajemen Kecerdasan (Memberdayakan IQ, EQ, dan SQ untuk Kesuksesan Hidup) - Taufiq Pasiak (Penulis best-seller Revolusi IQ/EQ/SQ)
Tips / Cara untuk menciptakan anak cerdas, setidaknya ada 5 hal yang harus diperhatikan betul :
1. Makanan
Ini amunisi otak yang sangat penting. Anak-anak yang kekurangan gizi umumnya memiliki otak yang kurang berkembang. Konsumsi ikan yang cukup, ASI, vitamin, dan mineral merupakan amunisi yang tepat bagi otak. Apa pun kursus yang Anda berikan untuk anak anda tanpa memberinya makanan yang tepat, samalah artinya dengan mengisi ruangan tanpa menguatkan dinding-dindingnya. Gizi adalah bahan baku proses-proses seluler, terutama untuk pembangunan struktur otak.
2. Lingkungan
Makin bervariasi lingkungan hdup anak Anda, makin baik perkembangan otaknya. Warna, bentuk, orang-orang yang berbeda, suasana yang bervariasi, dan lain-lain lebih mudah menstimulasi otak dibandingkan yang homogen. Jika Anda menciptakan lingkungan yang kaya dengan permainan, otak anak Anda berkembang dengan sangat pesat. Karena itu, sebisa mungkin, tempat tidur, tempat belajar (terutama di sekolah-sekolah), dan ruangan keluarga dapat diubah setiap jangka waktu tertentu. Anda perlu juga mengajaknya ke tempat-tempat yang penuh dengan hal-hal baru, seperti di pantai, gunung, dan lain-lain. Semakin bervariasi lingkungan, semakin cepat koneksi sel saraf terjadi.
3. Pengalaman emosional
Sistem limbik lebih dulu matang dibandingkan dengan kulit otak. Akibatnya, anak-anak menjadi sangat peka terhadap rangsangan dan pengalaman emosional. Semua pengalaman emosional yang diberikan pada rentang usia 0-7 tahun ini akan sangat berpengaruh dalam membentuk jalinan antar sel saraf. Pada usia ini, kontrol diri, kesabaran, kerja sama, empati, dan lain-lain lebih mudah dilatih dan tertanam kuat dalam otak dibanding berhitung, membaca, atau kegiatan-kegiatan kalkulatif lainnya. Jangan lupa, kematangan emosional ini lebih menentukan kesuksesan anak Anda di masa depan ketimbang kemampuan berhitung dan main komputer.
4. Stimulasi rasional
Hal-hal yang baru (novelty), menantang (challenge), padu (coherent), dan penuh makna (meaningful) lebih cepat memengaruhi otak ketimbang hal-hal yang lazim dan biasa. Jika setiap hari Anda memperkenalkan kata-kata baru kepada anak Anda, teknik-teknik baru dalam berhitung, tugas-tugas yang menantang dan penuh makna (misalnya, membuat percobaan fisika yang berkenaan dengan hal-hal sehari-hari), otaknya akan lebih cepat berkembang. Hal-hal yang menantang, seperti menemukan bentuk tertentu dalam banyak bentuk, dapat memperbanyak hubungan sel saraf. Origami (seni melipat kertas) adalah salah satu cara memperbanyak hubungan sel saraf. Attention of details juga merangsang otak. Berikan sebuah batu kerikil atau dedaunan kepada anak-anak. Mintalah mereka mencermati alur, warna, bentuk, dan ciri-ciri lain yang tidak tampak jika hanya dilihat sepintas. Perhatian pada hal-hal kecil, terutama bentuk dan warna, membuat sinaps saraf bertambah banyak.
Contoh seni Origami dapat didownload di sini.
5. Aktivitas fisik
Aktivitas fisik memengaruhi otak dengan tiga cara:
1) Meningkatkan sirkulasi darah ke otak. Artinya, oksigen, gula, dan zat gizi juga bertambah.
2) Memengaruhi produksi hormon NGF (Nerve Growth Factor); dan
3) Merangsang produksi dopamin. Zat ini berfungsi penting dalam menata perasaan (mood) anak Anda. Semakin sering dan terampil ia melakukan kegiatan fisik, semakin baik perkembangan otaknya.
Lima hal di atas tidak berdiri sendiri. Semuanya saling melengkapi dan saling memengaruhi. Anda tidak boleh mengedepankan dan memprioritaskan satu di antara yang lain. Jika Anda harus memilih yang utama, disarankan untuk melatih emosi anak Anda lebih dulu. Kematangan emosi memerlukan waktu tertentu untuk berkembang. Sedangkan kecerdasan rasional dapat Anda tingkatkan kapan saja Anda mau.
Source: Manajemen Kecerdasan (Memberdayakan IQ, EQ, dan SQ untuk Kesuksesan Hidup) - Taufiq Pasiak (Penulis best-seller Revolusi IQ/EQ/SQ)
Selasa, 05 Februari 2008
Banjir Jum'at, 01 Feb 2008 - Sudirman-Thamrin


Kalo Dia menghendaki maka jadilah ....
Banjir tak pandang tempat, daerah elit seperti
Sudirman & Thamrin pun kebanjiran juga
Bahkan Presiden SBY dan Istanahnya ikut - ikutan
kebanjiran juga.
Ini salah siapa ...?
Tanya rumput yang bergoyang, kata Ebit.
Ada yang bilang salah alam dan lainnya.
Kita harus berbenah diri dan lebih mendekatkan diri
pada yang Kuasa, kata Penceramah.
Tapi kok tetap sama ya ... dari dulu musibah datang
terus, seperti tak ada perbaikan.
Selasa, 15 Januari 2008
Selasa, 18 Desember 2007
Senin, 17 Desember 2007
Langganan:
Postingan (Atom)








